Surat Gembala Hari Pangan Sedunia 2018

Surat Gembala Hari Pangan Sedunia 2018

Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

1. Setiap tanggal 16 Oktober Gereja Katolik ikut memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) sebagai wujud keterlibatan Gereja Katolik di tengah keprihatinan dan kecemasan dunia kita sekarang ini. Hari Pangan Sedunia dimaklumkan dalam Sidang Umum Organisasi Pangan dan Pertanian Sedunia (=FAO) pada bulan November tahun 1979, didukung oleh semua negara anggota organisasi itu. Mulai tahun 1981 Hari Pangan Sedunia dirayakan tahun demi tahun oleh lebih dari 150 negara, dengan tema-tema yang berbeda. Tujuannya adalah untuk menyentuh kesadaran nurani setiap manusia akan kenyataan bahwa ada sekian banyak saudari-saudara kita di planet bumi yang menderita kelaparan dengan segala akibatnya. Selain itu Hari Pangan Sedunia juga diadakan untuk mendorong gerakan mengatasi kelaparan itu. Cita-citanya amat mulia, yaitu agar tidak ada lagi kelaparan di muka bumi ini dan keamanan pangan diperjuangkan, dijaga dan dipastikan.

2. Pada tahun 2018 ini Organisasi Pangan Dan Pertanian Sedunia mengeluarkan laporan yang menyatakan bahwa ada sekitar 820 juta penduduk dunia yang mengalami kekurangan pangan, 60% di antaranya adalah kaum perempuan. Selain itu dinyatakan juga bahwa 45 % kematian anak disebabkan oleh kekurangan pangan. 151 juta anak mengalami “gagal tumbuh” (=stunting). Gagal tumbuh adalah akibat dari masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan yang kurang dalam waktu lama, bahkan mulai pada waktu janin masih berada dalam kandungan ibu. Pengaruhnya tidak hanya tampak dalam postur tubuh kerdil, tetapi juga pada tingkat kecerdasan seseorang. Menurut informasi yang diberikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 37.2% anak di Indonesia mengalami gagal tumbuh. Artinya empat dari sepuluh anak di Indonesia menderitanya. Yang ironis ialah, laporan yang sama menyatakan bahwa 672 juta orang mengalami obesitas dan lebih dari satu milyard penduduk dunia mengalami kelebihan berat badan. Pertanyaannya ialah, mengapa musibah ini terjadi? Jawaban atas pertanyaan itu tidaklah sederhana, karena di balik realitas kelaparan dan kekurangan pangan ada sekian banyak masalah yang melatar-belakanginya. Kutipan-kutipan Kitab Suci yang dibacakan pada hari ini dapat kita pakai untuk melihat bahwa di balik kelaparan ada masalah sekaligus tantangan iman dan moral.

3. Ada sekurang-kurangnya dua hal yang menarik dalam kisah orang kaya menurut Injil Markus (10:17-27).

3.1. Pertama, ketika menjawab pertanyaan orang kaya itu, Yesus mengutip bagian pertama kesepuluh perintah Allah. Tetapi Ia juga menyisipkan satu perintah yang tidak terdapat dalam kesepuluh perintah Allah yang terdapat dalam Perjanjian Lama, yaitu “jangan mengurangi hak orang” (ay 19). Kita diingatkan antara lain oleh Paus Fransiskus bahwa dengan membuang-buang barang atau makanan, atau ikut arus dalam “budaya gampang membuang” pada dasarnya kita mengurangi hak orang lain.

3.2. Kedua, ketika orang kaya itu mengatakan bahwa ia sudah melakukannya sejak mudanya, Yesus “memandang dia dan menaruh kasih kepadanya” (ay 21). Dengan melakukan itu Yesus ingin mengatakan kepada kita, bahwa orang kaya itu sebenarnya adalah orang baik. Mungkin dia tidak pernah secara sadar telah mengurangi hak orang lain. Tetapi budaya, sistem atau struktur masyarakat tempat ia hidup telah menjeratnya sedemikian rupa, sehingga tindakannya mengurangi hak orang lain tidak disadari lagi atau dianggap sudah umum dan biasa saja. Yesus ingin membantu orang kaya itu untuk keluar dari jerat budaya, sistem atau struktur itu dengan mengambil langkah radikal dan tindakan nyata, yakni berbagi harta dengan orang miskin (ay 21). Tetapi Yesus tidak berhasil meyakinkannya. Orang kaya itu tidak rela berbagi harta. Ia tetap terjerat dengan yang biasa disebut dosa struktural.

4. Kalau dibaca dengan kacamata Kitab Kebijaksanaan (7:7-11) orang kaya itu bukan orang yang memiliki “pengertian” dan “roh kebijaksanaan”. Yang disebut “pengertian” dan “kebijaksanaan” memungkinkan orang melihat secara jernih “mempertimbangkan dengan cermat makna serta nilai hal-hal duniawi yang sesungguhnya, dalam dirinya maupun sehubungan dengan tujuan manusia” (Dekrit Tentang Kerasulan Awam No. 4). Dalam rangka Hari Pangan Sedunia, pengertian dan kebijaksanaan itu mewajibkan kita untuk menyadari dan melibatkan diri dalam usaha mengatasi kelaparan dan menjaga keamanan pangan sebagai tantangan iman dan moral kita.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

5. Alangkah baiknya kalau dalam rangka menyambut Hari Pangan Sedunia 2018 setiap keluarga, komunitas, lingkungan atau lembaga-lembaga, bersama-sama menjawab pertanyaan ini “Apa yang harus kita lakukan agar lingkungan hidup kita menjadi semakin manusiawi khususnya dalam hal kecukupan pangan?” Tindakan-tindakan kita sebagai wujud jawaban terhadap pertanyaan ini, sesederhana apa pun, akan menjadi wujud nyata untuk ikut mengusahakan agar semakin banyak saudari-saudara kita yang tidak mengalami kelaparan atau kekurangan gizi lagi.

5.1. Dalam rangka menyambut Hari Pangan Sedunia 2018, Konferensi Waligereja Indonesia menawarkan tema Keluarga Sebagai Komunitas Berbagi Pangan. Keluarga-keluarga Katolik diundang untuk meneladan sikap Yesus yang hati-Nya selalu tergerak ketika melihat penderitaan orang lain, termasuk ketika mereka kelaparan. Kisah Yesus memberikan makan kepada lima ribu orang (Mat 14:13-21) berawal dengan permintaan para murid agar Yesus menyuruh orang banyak itu pergi untuk mencari makan sendiri-sendiri. Tetapi Yesus tegas menjawab, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan” (Mt 14:16). Angka-angka yang menunjukkan bahwa masih banyak saudari-saudara kita yang kelaparan atau kekurangan makanan – dengan segala akibatnya – hendaknya mengetuk nurani semua anggota keluarga kita untuk berbelarasa dan rela berbagi. Semakin kita bertumbuh dalam belarasa dan rela berbagi, kita akan menjadi semakin serupa dengan Kristus sendiri. Tindakan belarasa dan berbagi adalah tangga-tangga kecil bagi kita untuk menanggapi panggilan kita untuk terus bertumbuh dalam kasih dan kesucian yang semakin sempurna ( Bdk. Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja, No 11.40)

5.2. Sementara itu Panitia Hari Pangan Sedunia Keuskupan Agung Jakarta – sejalan dengan tema gerakan tahun 2018 – mengambil tema Dalam Kebhinnekaan, Pangan Mempersatukan. Pangan adalah kebutuhan dasar manusia, siapa pun dia, apa pun latar belakangnya. Dengan demikian sudah seharusnya kalau kebutuhan setiap orang akan pangan itu mempersatukan, menumbuhkan solidaritas dan kerelaan berbagi. Tetapi nyatanya pangan dengan mudah juga dapat menimbulkan konflik. Alasan utamanya, kebutuhan dasar pangan yang seharusnya menumbuhkan solidaritas, dalam kenyataan juga dapat menyulut keserakahan. Itulah yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi: ”Bumi ini cukup untuk memenuhi setiap kebutuhan manusia, bukan untuk memenuhi keserakahan manusia”. Bahan-bahan pendalaman mengenai tema ini sudah disiapkan dan dibagikan. Semoga bahan-bahan yang disiapkan dengan sungguh-sungguh itu dapat mendorong gerakan berbagi pangan dan gerakan-gerakan lain untuk membebaskan semakin banyak saudari-saudara kita dari kelaparan atau kekurangan pangan bergizi. Keluarga-keluarga dan komunitas kita sudah sewajarnya menjadi tempat yang subur untuk mewariskan, merawat dan mengembangkan nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan manusiawi sekaligus kristiani, seperti kebhinekaan dan belarasa, khususnya dalam rangka mengatasi kelaparan dan kekurangan pangan bergizi.

6. Upaya-upaya kecil apa pun – misalnya, tidak membuang makanan, memilih cara hidup ugahari, berani berkata “cukup”, berbagi makanan dengan saudari-saudara kita yang sangat membutuhkan, jimpitan beras, menghemat air, mengikuti pertemuan-pertemuan dalam rangka HPS, merayakannya pada tingkat lingkungan, wilayah maupun paroki - menjadi bermakna karena dijiwai oleh iman. Melalui gerakan-gerakan seperti itu iman kita bertumbuh dan berbuah. Kita yakin bahwa Gereja adalah gerakan iman dan cinta melalui aksi-aksi nyata yang terus berkelanjutan, baik yang dilakukan secara bersama maupun sendiri-sendiri.

7. Akhirnya, bersama-sama dengan para imam, diakon dan semua pelayan umat, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/ Bruder/adik-adik kaum muda, remaja dan anak-anak, seluruh warga Keuskupan Agung Jakarta, yang dengan beraneka cara terlibat dalam karya perutusan Gereja Keuskupan Agung Jakarta. Melalui gerakan Hari Pangan Sedunia kali ini, kita diajak untuk semakin peduli terhadap realitas kelaparan yang melanda begitu banyak saudari-saudara kita di muka bumi ini. Mari kita sambut Hari Pangan Sedunia ini secara pribadi, dalam keluarga dan komunitas kita masing-masing dengan tindakan nyata. Kita berharap semoga gerakan bersama ini akan berbuah lebat melalui pembaharuan sikap dan perilaku kita, keluarga dan komunitas kita. Semoga kita masing, masing, keluarga dan komunitas kita dapat menjadi bagian dari umat milik Tuhan sendiri “yang rajin berbuat baik” (Tit 2:14). Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda semua, keluarga dan komunitas Anda.

 

+ I. Suharyo Uskup Keuskupan Agung Jakarta

 Sumber: http://www.kaj.or.id/read/2018/10/13/12588/surat-gembala-hari-pangan-sedunia-2018.php

Dipost Oleh Simon Aldwin

Post Terkait