Lima Roti dan Dua Ikan Yoh.6:9

Lima Roti dan Dua Ikan Yoh.6:9

“Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?", demikian bagian teks Injil yang dibaca dan kita dengar bersama di minggu terakhir bulan Juli, hari minggu biasa ke XVII menurut kalender liturgi dalam Gereja Katolik. Pesan liturgi hari ini tentu saja tidak dapat dipisahkan dari rangkaian tema liturgi di sepanjang masa biasa. Bunda Gereja membimbing segenap umat, putera-puteri Gereja untuk merenungkan bahwa Tuhan kita adalah Allah Emanuel, Allah beserta kita. Tuhan kita adalah Dia yang telah lahir sebagai manusia (misteri Inkarnasi), hidup sebagai manusia, masuk dalam sejarah manusia. Tuhan lahir dalam kehinaan manusiawi untuk mengangkat kemanusiaan yang fana dan tidak berharga dan tidak terhitung, mengangkat yang kecil, orang sakit disembuhkan, orang lumpuh disembuhkan dan bisa berjalan kembali (Mrk.2:1-12; Mat.9:1-9; Luk.5:17-26), Lewi pemungut cukai ditemui-Nya (bdk.Mrk.2:13-17; Mat.9:9-13;Luk.5:27-32), Ia memelekkan orang buta, Ia mengusir roh jahat, bahkan Lazarus yang telah mati dan dikubur dihidupkan kembali (Yoh.11: 38-54).

Gereja meyakinkan kita bahwa Tuhan setia kepada umat-Nya. Tuhan ada di antara umat-Nya, mengangkat kehinaan diri dan hidup manusia, menderita, memanggul salib kehinaan hidup manusia, bahkan Ia rela mati, masuk dalam alam ‘ketiadaan’ dan bangkit sebagai Yang Sulung di jalan hidup baru sebagai Anak atau Putera Allah yang dimuliakan. Tuhan menunjukkan jalan baru kepada Bapa, ketika Dia mengatakan, “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh.14:1-14). Sabda Tuhan menjadi pelita bagi manusia di jalan gelap, kekuatan bagi manusia yang lemah, harapan bagi manusia yang putus asa.

Pesan liturgi di hari Minggu ini menyampaikan berita istimewa bagi kita. Ada dua pokok yang bisa kita jadikan pegangan dan keyakinan kita.

  1. Lima roti dan dua ikan” menjadi symbol kesahajaan, kesederhanaan, keterbatasan dan sesuatu yang di mata manusia tidaklah berarti. “….. Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja”, Jawab Filipus kepada Yesus yang bertanya di mana bisa membeli roti untuk orang banyak (Yoh.6:5). “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" (Yoh.6:9). Atau seperti dalam bacaan pertama, “….. Bagaimanakah aku dapat menghidangkan ini di depan seratus orang?", jawaban sang pelayan kepada Elisa yang menyuruhnya untuk memberi makan kepada orangorang yang datang (2Raj.4:43). Akan tetapi keterbatasan itu ternyata dilipatgandakan oleh Tuhan. Tuhan membuat tak terhingga dari yang terhingga, membuat tak terbatas dari yang terbatas, membuat yang tidak mungkin menjadi suatu kemungkinan, membuat yang tidak dapat dipikirkan menjadi kenyataan. Kuncinya adalah menjadikannya sebagai pernyataan dan wujud kasih Tuhan. Harta yang terbatas dipersembahkan kepada Tuhan untuk menjadi tanda kasih-Nya; diri kita, hidup kita yang terbatas akan menjadi berkat bagi banyak orang ketika kita menyerahkannya kepada Tuhan.
  2. Semua orang akan sampai kenyang” (Yoh..6:12). Pesan mesianik kepada kita semua bahwa Tuhan hadir dan memenuhi segala kebutuhan diri dan hidup kita. Semua orang memperoleh jawaban yang satu dan sama. Semua orang hidup dalam kesetaraan tanpa diskriminasi. Semua pihak menjadi satu. Pesan mesianik ini digambarkan dalam bacaan kedua hari ini, ketika rasul Paulus menulis kepada umatnya di Efesus (4:1-6) untuk tetap menyatakan keberadaan hidup yang satu, “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera, ….. satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua”. Kesatuan ini anugerah sekaligus perjuangan kita dalam hidup di dunia ini menuju hidup abadi.

Bruno Rumyaru

Dipost Oleh Simon Aldwin

Post Terkait